
Oleh : Prof. Dr. H. Syamsuar., M.Ag
Ittihad Tarbiyah Islamiyah (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang disingkat dengan PERTI lahir di Canduang, Bukit Tinggi (Sumatera Barat) 5 Mei 1928 yang dipelopori ulama besar Indonesia yaitu Syeikh Sulaiman Ar Rasuli. Mempertahankan iktikad Ahlus Sunnah wal jama’ah dan mengimplementasikan mazhab Syafi’i. Memiliki AD/ART tahun 1938 dan Pernah menjadi Partai Politik tahun 1945, ikut Pemilu 1955 dan akhirnya kembali ke Ormas Islam. Terbelah dua (dualisme kepengurusan) di era awal Orde Baru. Melebur di dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan) tahun 1973 (Fusi Partai). Lalu Ishlah kembali pada tahun 2016. Dalam usianya yang ke 98 pada tahun 2026 ini tentu banyak sekali dinamika kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan serta tantangan di era modern yang semuanya itu dilalui dengan mulus. Lantas bagaimanakah Perti dapat menjadi lembaga representatif umat Islam Indonesia yang hingga sekarang masih eksis? Ulasan berikut akan mencoba menjawab pertanyaan di atas.
TARIKH DAN PENDIRI/MUASSIS PERTI
Awal mula berdiri PERTI didahului beroperasinya MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) Canduang serta diikuti MTI Jaho, MTI Tabek Gadang, dan MTI Batu Hampar. Empat MTI ini adalah dimaksudkan sebagai langkah modernisasi pendidikan Kaum Tua (tradisionalis). Berorientasi pada empat MTI tersebut, maka para muassis (pendiri) PERTI mendirikan satu organisasi yang dimaksudkan menghimpun MTI-MTI yang dinamakan Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PMTI). Orang Sumatera Tengah menamakan organisasi ini dengan “Ittihat Ulama Sumatera”pada tahun 1921. Pada tahun 1930 PMTI berubah menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI) yang diketuai Sulthani Abdullah, Syeikh Alwi Koto Nan Ampek (Wakil Ketua), T. M. Ghazali P. Tanjung (Sekretaris), dan HMS Sulaiman (Bendahara). Sementara Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli atau dikenal dengan Inyiak Canduang Ketua Dewan Kehormatan (Hoofdbestuur).
Organisasi Masyarakat Islam yang umurnya hampir satu abad ini menetas di Bukit Tinggi (Sumatera Barat) dari rahim Canduang yang dibidani oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli pada tanggal 5 Mei 1928 Masehi bertepatan 15 Zulqaidah 1346 H yang disepakati oleh pendirinya dengan nama PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Sejak berdirinya hingga Pimpinan Pusat PERTI terakhir, sudah dipegang oleh puluhan cendekiawan Muslim, tokoh/ulama ahlussunnah wal jamaah terkenal baik, memiliki reputasi nasional maupun internasional.
Selain Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli sebagai pemilik ide dasar, juga bersama ulama Sumatera Barat lainnya PERTI itu keluar dari kandungan (rahim) yaitu Syeikh Muhammad Jamil Jaho, Syeikh Abdul Wahid Ash-Shalihi, dan Syeikh Abbas Qadhi Ladang Laweh, dan pada tahun 1930 ditetapkan 10 Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai pendiri PERTI, Syeikh Khatib Muhammad Ali Padang, Syeikh Muhammad Arifin Al-Arsyadi Batu Hampar, Syeikh Alwi Koto Nan Ampek Payakumbuh, Syeikh Jalaluddin Sicincin, Syeikh Abdul Majid Koto Nan Gadang Payakumbuh, dan Syeikh Makhudum Solok.
PARA KETUA PERTI PUSAT
Pada tahun 1938 Buya K.H. Sirajuddin Abbas terpilih sebagai Ketua PERTI yang menggantikan Buya Haji Hasan Basri yang mengundurkan diri karena faktor kesehatan. Banyak perkembangan yang terjadi pada tahun tahun ini, di antaranya hadir AD/ART PERTI pada Konfferensi di Bukit Tinggi sekaligus berlaku hingga tahun 1958. Menyatukan Mata Pelajaran Madrasah PERTI, menerbitkan Majalah Suara Perti (Super) 1951, dan memiliki 360 MTI di Nusantara pada tahun 1954. Pada tahun 1950 Kantor Pusat PERTI di Bukit Tinggi hijrah ke Jakarta, dan pada saat Kepemimpinan ormas PERTI di kayuh oleh Buya KH. Sirajuddin Abbas, berubah mejadi Partai Islam PERTI (1945) serta mengikuti Pemilu perdana dalam sejarah Indonesia pada tahun 1955. Terkait Partai Islam PERTI akan penulis sajikan secara spesifik/khusus pada edisi selanjutnya.
Sejak lahir 1928 hingga 1958, PERTI sudah berumur 30 tahun, artinya sudah melewati masa satu generasi kehidupan manusia. Dilihat dari muassis/pendiri dan para Pimpinan PERTI yang terdiri ulama/cendekiawan atau ahli ilmu agama Islam bermazhab Syafi’i, tentu saja dapat dimaknai bahwa di antara mereka ada yang berguru kepada ulama besar yang ilmunya di atas mereka. Penggagas ormas Islam ini tentu tidak bosan bosan menyumbangkan ilmu dan pengalaman spiritual mereka secara mutawatir kepada murid dan generasi pelanjut dari perjuangan mereka. Hal ini tidak dapat dibantah, karena amaliyah di lapangan, PERTI menggunakan MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah), di mana sistem pengajiannya menggunakan sistem pondok (Jawa), Surau (Sumatera Barat), dan Dayah (sebutan masyarakat Aceh). Dengan demikian sumbangan PERTI terhadap negara dan bangsa Indonesia serta dunia Islam sangat signifikan.
Pada masa Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PERTI yang digayungi Buya H. Rusli Abdul Wahid menyatakan “Kemandirian PERTI” dalam artian tidak lagi terlibat pada politik praktis, melainkan kembali ke organisasi kemasyarakatan dan itu terjadi 1988. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tarbiyah (1989) yang menjadi undarbawnya Golkar.
Bermuara dari kesamaan visi, misi dan program setelah insiden dualisme kepemimpinan PERTI-Tarbiyah, berjalan sekian lama di masa Orde Baru, maka terjadilah Islah pada Orde Reformasi, dimana PERTI dikomandoi/Ketua Umum DPP PERTI oleh Buya/Teungku. H. Mohd. Faisal Amin (berasal dari Aceh) dan Tarbiyah dipimpin oleh Ketua Umum Pengurus Besar Buya. Basri Bermanda (berasal dari Sumatera Barat). Mengenai “perpecahan PERTI” akan penulis ulas pada tulisan selanjutnya.
Sekarang roda kepemimpinan PERTI pasca islah (2016) dinakhodai oleh Drs. H. Syarfi Hutahuruk, MM (Pimpinan Pusat PERTI periode 2022-2027). Kiai H. Syarfi Hutahuruk dikenal sebagai tokoh nasional yang memiliki latar belakang karir politik di Sumatera Utara. Ia terpilih memimpin ormas yang berakar kuat dari Minangkabau tersebut. Poin penting terkait Buya Haji Syafri memiliki latar belakang mantan politisi Golkar dan pernah menjabat sebagai Wali Kota Sibolga, Sumatera Utara, selama dua periode (2010–2015 dan 2016–2021). Oleh karena itu, fokus kepemimpinan Buya Syarfi, pada pengembangan pendidikan, dakwah, dan penguatan organisasi. Pilihannya sebagai Ketua Umum didasarkan pada musyawarah mufakat untuk membawa semangat perluasan jejaring nasional dan dunia global (internasional).
Dalam menapaki PERTI yang lebih meningkat serta menyahuti tantangan di era modern, PERTI terus membingkai program strategis kontemporer yang disebut “Tribakti PERTI”, seperti terlihat dari program yang sedang dirintis di bidang pendidikan dengan pendirian Universitas Internasional Perti (UIP). Bahkan sudah diresmikan yang berlokasi di Pekanbaru, Riau, 17 Desember 2025. Di Padang juga sudah dilakukan peletakan batu pertama pendirian Universitas Tarbiyah Islamiyah, September 2023 di Padang Sarai, Koto Tangah yang didukung penuh oleh pemerintah setempat.
Kini PERTI sudah meng-Indonesia, artinya sudah ada pengurus wilayah di Provinsi-Provinsi seluruh Indonesia, namun basis terkuatnya berada di Sumatera Barat, Wilayah Riau, dan Aceh (PERTI masuk ke Aceh di bawa oleh Syeikh H. Muhammad Waly Al-Khalidy). Terkait PERTI di Aceh akan ditulis pada artikel selanjutnya.
*Penulis adalah Ketua Majelis Pakar PC PERTI Aceh Barat, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Pembina Dayah Darul Muta’allimin Meulaboh-Aceh Barat.