Whoops! There was an error. MAULID: SELAWAT UNTUK BAYI PADANG PASIR – STAIN

MAULID: SELAWAT UNTUK BAYI PADANG PASIR

Oleh: Prof. Dr. H. Syamsuar, M.Ag.

Tak seorang pun pernah membayangkan bahwa Muhammad SAW—seorang bayi yang lahir di padang pasir tandus—kelak akan tumbuh dewasa dan mengguncang dunia. Ini adalah contoh nyata bahwa tugas kekhalifahan setiap manusia didesain secara unik oleh Yang Maha Absolut. Tidak semua orang bisa menjadi seperti Muhammad, meskipun semua orang merindukan sosoknya. Hal itu tentu tidak mungkin, karena hanya manusia pilihan yang mampu melangkah sejauh Putra Abdullah tersebut.

Namun demikian, setidaknya sebagian dari sel-sel kebaikan Rasulullah SAW dapat kita teladani. Meneladaninya adalah jaminan tiket menuju surga, sebagaimana yang diamalkan oleh Bilal bin Rabah. Bilal konsisten melaksanakan shalat dua rakaat setelah berwudhu, hingga amalan sederhana itu mengantarkan langkahnya ke jannah. Hal ini dibuktikan saat peristiwa Isra Mi’raj, ketika Rasulullah SAW mendengar bunyi terompah Bilal sudah ada di surga.

Siapakah Bilal dan siapakah Nabi? Bilal bukanlah seorang Nabi, dan Nabi pun bukan Bilal. Bilal tidak menggantikan posisi Nabi, namun keteladanannya menunjukkan betapa agungnya uswatun hasanah yang diajarkan Rasulullah. Dalam diri Nabi terdapat magnet kebaikan yang selalu mengarah pada kebenaran.

Untuk menjadi mulia, kita tidak harus terlahir dari keluarga bangsawan besar, tidak harus lahir di padang pasir Mekkah. Namun, semangat, himmah, dan daya juang Mekkah itulah yang harus menjadi rujukan dalam menapaki hidup kita. Meskipun Muhammad SAW telah wafat, semangatnya tetap hidup di hati orang-orang yang mencintainya. Beliau hidup di hati orang-orang yang selalu berzikir dan bershalawat.

Setiap kali bulan Rabiul Awwal tiba, umatnya selalu merindukan putra pasangan Abdullah dan Aminah ini. Orang beriman terngiang-ngiang ingin ke Mekkah, para ulama bermunajat, dan jamaah haji serta umrah berlomba-lomba mendekati Raudhah. Keteladanannya tiada tanding: ketika tertimpa musibah, beliau mendoakan ampunan bagi yang menyakitinya. Ketika disakiti, beliau tidak membalas. Ketika diuji, beliau berserah diri kepada Ilahi.

Tak heran jika Michael H. Hart menempatkan beliau di urutan pertama tokoh paling berpengaruh di dunia. Dari rakyat biasa menjadi pemimpin besar, beliau memimpin Madinah dengan konstitusi, bukan dengan tangan besi. Siang hari beliau berjuang, malam hari beliau qiyamul lail. Bahkan hewan pun mengadukan nasib padanya, seperti kisah seekor induk rusa yang memohon izin kepada Nabi untuk menyusui anaknya di hutan. Begitu pula kisah seorang warga Yahudi yang biasa meludahi Nabi. Ketika peludah itu sakit, Rasulullah justru bergegas menjenguknya sambil membawa makanan, hingga membuat orang Yahudi tersebut tersentak, menangis, dan akhirnya bersyahadat.

Melihat perjalanan hidup cucu Abdul Muthalib ini, rasanya tidak ada insan yang sesempurna beliau. Para ulama bahkan menyimpulkan betapa agungnya kedudukan Nur Muhammad bagi alam semesta.

Maka, jika saat ini kita menghadapi hambatan, stagnasi, atau tantangan hidup, bandingkanlah dengan perjuangan Sang Al-Amin yang bahkan pernah diancam hendak dibunuh oleh Umar bin Khattab (sebelum masuk Islam). Berbagai hinaan dialamatkan kepadanya, bahkan dakwahnya ditentang oleh pamannya sendiri, Abu Lahab dan Abu Jahal. Namun beliau tetap melangkah karena menyadari dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Jika kita mengaku beriman bahwa Muhammad adalah utusan Allah, bersandarlah kepada-Nya kapan pun dan di mana pun. Sebelum terlambat, marilah kita segera berbuat baik. Sebelum keranda diusung, mari berpayung pada ajaran-Nya.

Sebab, tidak banyak yang akan kita bawa ke dalam liang lahat selain tiga helai kain kafan. Harta, ATM, obligasi, saham, sertifikat tanah, kendaraan, jabatan, hingga segudang gelar akademis (Drs., Ir., S.T., S.Ag., M.T., M.H., Dr., Ph.D., Prof.) tidak ada yang dibawa ke kubur. Bayi yang lahir di padang pasir tandus itu telah berpesan agar kita selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadis. Dua pusaka inilah yang mampu menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Aamiin.

Ditulis di atas Pesawat Garuda Indonesia (Aceh – Jakarta)

Selasa, 25 Agustus 2026 | Pukul 13.50 – 13.55 WIB

Tags

Leave a comment