Dosen STAIN Meulaboh Kupas Khazanah Tasawuf dan Sastra Hamzah Fansuri di ISBI Aceh

Dosen STAIN Meulaboh Kupas Khazanah Tasawuf dan Sastra Hamzah Fansuri di ISBI Aceh, Jumat, 30 Oktober 2026


Pemikiran Syekh Hamzah Fansuri dalam bidang tasawuf dan kesusastraan Melayu klasik masih menyimpan berbagai aspek yang perlu ditelusuri melalui penelitian akademik. 

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Seminar Hamzah Fansuri yang berlangsung di Aula Gedung Utama Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Jumat 30 Oktober 2026.

Seminar bertema “Hamzah Fansuri: Riwayat, Sejarah Tasawuf, dan Keabadian Sastra Melayu Klasik” ini menghadirkan dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Ramli MAg yang dikenal sebagai Ramli Cibro, bersama Hermansyah MTh MA MHum pakar filologi Aceh sekaligus dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Ramli yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN Meulaboh menjelaskan, pemikiran Syekh Hamzah Fansuri tidak cukup dikaji hanya dari satu perspektif keilmuan. Sosok ulama dan sastrawan tersebut memiliki warisan pemikiran yang mencakup berbagai dimensi, mulai dari historiografi, filsafat wahdatul wujud, mistisisme dan praktik tarekat, etika emansipatif, hingga estetika bahasa dalam karya sastra Melayu klasik.

Menurut Ramli, berbagai dimensi tersebut membuka ruang penelitian yang lebih luas untuk memahami posisi Hamzah Fansuri dalam sejarah intelektual Islam. Pemikirannya perlu dikaji dengan menghubungkan aspek tasawuf, filsafat, sejarah, dan kesusastraan sehingga tidak terlepas dari konteks perkembangan intelektual dan kebudayaan pada masanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kajian terhadap karya-karya Hamzah Fansuri sebagai bagian dari tradisi intelektual Melayu. Melalui pendekatan multidisipliner, warisan pemikiran tersebut dapat ditelaah tidak hanya sebagai khazanah keagamaan, tetapi juga sebagai kontribusi penting terhadap perkembangan bahasa, sastra, dan kebudayaan Islam di Nusantara.

Sementara itu, Hermansyah mengangkat aspek keberadaan dan penelusuran manuskrip Syekh Hamzah Fansuri yang masih tersimpan di sejumlah lembaga di Aceh. Di antaranya Museum Ali Hasjimy, Museum Aceh, serta Arsip dan Perpustakaan Aceh.

Ia menjelaskan, karya-karya Hamzah Fansuri tidak selalu ditemukan dalam bentuk naskah yang berdiri sendiri. Sebagian di antaranya justru terselip dalam bundel manuskrip yang memuat berbagai tulisan. Karena itu, diperlukan penelitian filologis untuk mengidentifikasi, menelusuri, dan memastikan keberadaan karya-karya tersebut.

Penelusuran manuskrip menjadi bagian penting dalam upaya mengungkap kembali warisan intelektual Hamzah Fansuri. Melalui penelitian filologi, keberadaan naskah dapat dikaji secara lebih cermat sehingga khazanah pemikiran dan kesusastraan yang diwariskan dapat dipahami berdasarkan sumber-sumber tertulis yang tersedia.

Kedua paparan tersebut memperlihatkan dua pendekatan yang saling melengkapi dalam mengkaji Hamzah Fansuri. Ramli menekankan keluasan pemikiran tasawuf dan dimensi intelektualnya, sedangkan Hermansyah menguraikan pentingnya penelusuran sumber manuskrip sebagai pijakan penelitian sejarah dan filologi.

Sementara itu, Rektor ISBI Aceh, Prof Dr Wildan MPd, mengajak generasi muda Aceh untuk mengenali warisan intelektual para ulama besar, seperti Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Abdurrauf Singkel, dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Ia juga berharap ISBI Aceh terus mengembangkan seni dan kebudayaan Islami yang berakar pada tradisi lokal Aceh.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Rektor ISBI Aceh, Ratri Candra Sari, Ketua LPPM Saniman Andi Kafri, Ketua LPMBP Beni Andiko, sejumlah dosen dan mahasiswa ISBI Aceh, serta perwakilan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Hendra SH dan Jovial Pally Taran.

Seminar tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif keilmuan dalam mengkaji sosok Syekh Hamzah Fansuri. Melalui pendekatan tasawuf, sejarah, dan filologi, warisan intelektual ulama Aceh ini dapat terus diteliti dan ditempatkan sebagai bagian penting dari perkembangan pemikiran Islam dan kesusastraan Melayu klasik.[]

Leave a comment