STAIN Meulaboh Sukses Gelar MICONIS ke-2, Dorong Transformasi Studi Islam di Tengah Pusaran Digital

MEULABOH – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh sukses besar menjadi tuan rumah penyelenggaraan Meulaboh International Conference on Islamic Studies (MICONIS) ke-2. Konferensi internasional bergengsi ini berhasil menarik perhatian akademisi global dengan mengangkat tema strategis: “The Development of Islam in Southeast Asia: Education, Civilization, Law, Modern Fiqh Siyasah, and Transformation in The Digital Era.”

Acara yang diadakan secara hibrida (hybrid) ini menjadi wadah konferensi penting bagi para cendekiawan untuk mendiskusikan peran vital Islam dalam merespons tantangan modern di kawasan Asia Tenggara.

Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Prof. Dr. H. Syamsuar, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan urgensi kolaborasi internasional.

“Dinamika Islam di Asia Tenggara sangat beragam, dan kita memerlukan sinergi global untuk memahami serta menavigasi konteks revolusi digital ini,” ujarnya.

Sesi utama konferensi diwarnai pandangan visioner dari dua Keynote Speaker terkemuka yang mendorong lembaga pendidikan Islam untuk tidak gentar bertransformasi.

Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag., selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, menyoroti penguasaan teknologi sebagai kunci kemajuan peradaban. Beliau menekankan bahwa transformasi yang dibutuhkan bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan perubahan mendasar pada pola pikir.

“Percepatan zaman menuntut institusi pendidikan Islam harus menjadi pelopor. Jika kita ingin melihat peradaban Islam yang unggul, maka kita harus memastikan bahwa Tidak ada Kesuksesan tanpa pengorbanan untuk menguasai teknologi,” tegas Prof. Arskal.

Ia menambahkan, “Transformasi digital adalah pengorbanan kita saat ini demi kemaslahatan di masa depan.”

Sementara itu, Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd., Rektor UIN Imam Bonjol Padang, memberikan penekanan pada keseimbangan antara ilmu dan karakter. Menurutnya, perkembangan iptek harus selalu dibingkai oleh nilai-nilai keislaman dan etika, terutama dalam konteks perundang-undangan (Fiqh Siyasah).

“Peradaban Islam di Asia Tenggara akan menjadi mercusuar dunia jika kita mampu menjaga keseimbangan. Ilmu tanpa karakter adalah kosong, dan karakter tanpa ilmu adalah buta,” ucapnya.

Menurutnya inti dari pendidikan adalah membentuk karakter dan nilai positif pada kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Model Kolaboratif di Tujuh Negara:
Konferensi semakin kaya dengan kehadiran enam pembicara dari berbagai negara Asia Tenggara yang tergabung dalam sesi panel diskusi yaitu Math Alpy, Ph.D. dari Highest Council for Islamic Religious Affairs Cambodia. Phan Than Huyen, M.A., Ph.D. Vietnam National University, Ho Chi Minh City. Dr. Cecep Soleh Kurniawan, MA Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam. Profesor Madya Dr Rahimah Embong dari Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia. Dr. Adha Shaleh (Independent Researcher, Singapore dan Marhamah, M.S.I., Ph.D (STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh).

Para panelis ini membahas secara mendalam isu hukum Islam modern, pendidikan Islam komparatif, dan tantangan komunitas Muslim regional. Mereka sepakat bahwa tujuan krusial dari diskusi ini adalah merumuskan model kolaboratif untuk menghadapi isu transnasional, termasuk moderasi beragama, pengembangan ekonomi syariah, dan harmonisasi Fiqh dengan kebutuhan masyarakat digital.

MICONIS ke-2 ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh dalam memperkuat jaringan akademik dan mendorong lahirnya penelitian-penelitian inovatif tentang Islam di Asia Tenggara yang relevan dengan perkembangan global.[]

HUMAS – STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Tags

Leave a comment