Benteng Moral di Era Digital: MICONIS STAIN Meulaboh Kupas Harmoni Brunei dan Kekuatan Sejarah Dayah Aceh

MEULABOH – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh secara gemilang membuka sesi diskusi hari pertama Meulaboh International Conference on Islamic Studies (MICONIS) ke-2 pada Rabu, 5 November 2025 dengan Mengusung tema besar tentang perpaduan sejarah lokal dan model keharmonisan regional, dimana konferensi ini membedah fondasi spiritual yang krusial bagi generasi Muslim di tengah arus transformasi global.

Sesi panel hari pertama diwarnai oleh paparan kunci dari Dr. Cecep Soleh Kurniawan, M.A., dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam yang menghadirkan kajian menarik berjudul “MIB sebagai Asas Keharmonisan Antara Agama di Brunei Darussalam.”

Cecep menekankan bahwa di tengah kecepatan perubahan sosial dan teknologi, nilai-nilai keislaman harus dipertahankan sebagai basis utama stabilitas. Ia merujuk pada filosofi Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei, yang merefleksikan makna hakiki negara tersebut sebagai “tempat yang aman dan damai.”

“Filosofi ini menegaskan bahwa identitas Islam dapat berfungsi sebagai payung yang mengayomi kerukunan dan toleransi, sebuah model yang sangat relevan untuk diterapkan di berbagai wilayah,” jelasnya.

Ia menyerukan sebuah tantangan: “Generasi Muslim harus disiapkan dengan kekuatan spiritual yang kokoh, seiring dengan kemampuan teknologi dan inovasi.”

Menurutnya, kunci untuk menghadapi tantangan global adalah memegang identitas Islam yang kuat sambil bersikap terbuka, inklusif, dan proaktif dalam kolaborasi.

Paparan dari Brunei tersebut diperkuat oleh pandangan lokal dari Marhamah, M.Ag., Ph.D., Dosen Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Meulaboh, yang menyoroti akar spiritual Aceh dalam presentasinya tentang “Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Aceh.”

Marhamah memaparkan bahwa pendidikan Islam di Aceh memiliki akar sejak abad ke-7 Masehi, bertumbuh dari sistem informal Halaqah menjadi lembaga formal Dayah (Pesantren).

“Lembaga tradisional ini memainkan peran ganda sebagai pusat penyebaran ilmu pengetahuan agama dan sebagai benteng pembentuk karakter dan moral masyarakat,” ujarnya.

Marhamah menegaskan bahwa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh sebagai pewaris tradisi ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan adaptasi terhadap era digital tetap berlandaskan spiritualitas yang kuat, sebagaimana warisan tradisi pendidikan Aceh yang telah teruji selama berabad-abad.

Sinergi pemaparan ini secara tegas menyimpulkan pesan utama MICONIS ke-2 STAIN teungku Dirundeng Meulaboh bahwa masa depan peradaban Muslim terletak pada kemampuan mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai luhur keislaman yang teruji sejarah dan mampu menciptakan harmoni sosial.[]

HUMAS – STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Leave a comment