
MEULABOH – STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh melaksanakan yudisium sarjana strata-1 angkatan XX semester ganjil tahun akademik 2025/2026, momen ini menandakan prosesi kelulusan bagi mereka yang telah berjuang menyelesaikan seluruh rangkaian akademik pada perkuliahan di kampus setempat. Rabu, 28 Januari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula gedung Pendidikan Terintegrasi tersebut diikuti oleh 39 lulusan yang terdiri dari Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam dan Jurusan Tarbiyah dan Keguruan.
Pada kesempatan ini, Wakil Ketua bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Erizar, M.Ed, mewakili Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh mengatakan, yudisium bukan sekadar seremoni akademik, melainkan momentum penting yang menandai berakhirnya proses pendidikan formal sekaligus dimulainya fase baru pengabdian lulusan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Erizar menekankan pentingnya integritas, etika, dan kepekaan sosial sebagai landasan utama lulusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, di era saat ini lulusan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh tidak lagi harus membatasi cita-cita pada profesi sebagai aparatur sipil negara (PNS), melainkan memiliki peluang luas untuk mengembangkan potensi sesuai bidang keilmuan masing-masing, seperti menjadi edupreneur bagi lulusan Fakultas Tarbiyah, entrepreneur bagi lulusan Syariah, maupun berkiprah sebagai konten kreator yang kreatif dan inovatif.
Sementara itu, Orator Ilmiah yudisium, Dr. Fadhlur Rahman Armi, Lc., MA, menyampaikan bahwa lulusan perguruan tinggi Islam saat ini berada di persimpangan sejarah antara menjaga tradisi keilmuan Islam (turats) dan menghadapi derasnya arus digitalisasi serta perkembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, tantangan utama pendidikan tinggi Islam bukan sekadar digitalisasi administrasi, melainkan transformasi epistemologi agar tetap berakar pada sanad keilmuan sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Ia menegaskan pentingnya pendekatan integrasi-interkoneksi, di mana lulusan Gen-Z STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana melestarikan nilai-nilai keislaman, bukan justru kehilangan identitas. Dalam konteks tersebut, penguasaan teknologi digital dipandang sebagai bentuk ikhtiar (kasab) yang bernilai teologis.
Lebih lanjut, Dr. Fadhlur Rahman Armi mendorong lulusan agar berperan aktif di ruang digital, tidak hanya sebagai konsumen informasi, tetapi juga sebagai produsen konten keislaman yang berlandaskan keilmuan, moderasi, dan etika. Ia juga menekankan pentingnya peran lulusan sebagai agen tabayyun digital dalam menangkal hoaks serta narasi ekstremisme di media sosial.
Dalam pesannya kepada para peserta yudisium, ia mengingatkan bahwa keberhasilan akademik harus diiringi dengan ketangguhan spiritual, hal ini bukan sekadar ritual melainkan sarana membangun ketahanan mental dalam menghadapi realitas kehidupan yang kompleks di era modern. Ia menutup orasi dengan harapan agar lulusan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh mampu menjadi intelektual muslim yang adaptif, berkarakter, dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat, baik di dunia nyata maupun dunia digital.[]
HUMAS – STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh