Merangkai Solusi Abad ke-21: MICONIS STAIN Meulaboh Kupas Ekonomi Halal, Fatwa Lingkungan, dan Etika Pendidikan Digital

MEULABOH – Hari kedua pelaksanaan Meulaboh International Conference on Islamic Studies (MICONIS) ke-2, pada Kamis 6 November 2025, terasa semakin krusial.

Konferensi ini berhasil membawa isu-isu peradaban global ke kampus daerah, dengan menyoroti tiga pilar utama yang sangat relevan dengan tema besar: “Islam dan Masa Depan Peradaban: Gerakan Hijau, Etika Teknologi, dan Toleransi.”

Tiga akademisi dari ranah ekonomi, pendidikan, dan lingkungan secara gamblang menjelaskan bagaimana nilai-nilai Islam menjadi kunci adaptasi di tengah perubahan dunia yang serba cepat.

Toleransi Ekonomi: Belajar dari Dinamika Pasar Halal Vietnam

Sesi pertama menghadirkan Phan Thanh Huyen dari Vietnam National University-HCMC, yang menyajikan analisis tajam tentang perkembangan Ekonomi Halal di tengah masyarakat multikultural.

Kajian ini langsung menyentuh pilar toleransi dan transformasi global yang menunjukkan bahwa sektor Halal global, yang diproyeksikan meroket, tidak sekadar urusan agama, melainkan motor ekonomi baru yang berpegang pada nilai etis, berkelanjutan, dan inklusif.

Melalui perbandingan dengan Vietnam, ia menegaskan bahwa standar Halal dapat diterima luas oleh pasar non-Muslim. Hal ini membuktikan bahwa Islam menawarkan model ekonomi yang menjamin koeksistensi harmonis, di mana prinsip-prinsip syariah justru menjadi jaminan kualitas dan integritas, sekaligus menjadi jalan untuk mempromosikan toleransi ekonomi di kancah global.

Etika Teknologi: Pendidikan Islam Harus Menjadi Holistik

Sesi selanjutnya mendatangkan Isu pendidikan disrupsi digital yang dibahas oleh Assoc. Prof. Dr. Rahimah Embong dari UniSZA, Malaysia, dalam presentasinya yaitu “Reimajinasi Pendidikan Islam.”

Paparan Dr. Rahimah berfokus pada pilar Etika Teknologi dan Transformasi Global. Ia mengingatkan bahwa pendidikan Islam masih terbelah (dualistik), sehingga melahirkan lulusan yang mungkin mahir teknologi tetapi rapuh moralnya.

Solusinya adalah mengadopsi pedagogi holistik untuk menghadapi Era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguity). Dengan tujuan memastikan bahwa generasi Muslim siap secara teknis, namun dengan nilai-nilai spiritual yang kuat. Dengan demikian, Etika Teknologi diutamakan, menjamin bahwa kemajuan digital berfungsi untuk tujuan taqwa dan adab, bukan sebaliknya, dalam memimpin Transformasi Global.

Gerakan Hijau: Fatwa Lingkungan Sebagai Kewajiban Iman

Sesi diakhiri dengan paparan yang menghubungkan bumi dan langit oleh Dr. Adha Shaleh, spesialis Faith Based Environmental Education, tentang Islamic Environmental Education (IEE).

Dengan memaparkan bahwa inti dari pilar Gerakan Hijau dan Masa Depan Peradaban merupakan pertanggungjawaban ekologis terhadap perintah Keimanan (Faith), bukan sekadar pilihan gaya hidup.

Ia menekankan pentingnya memasukkan Environmental Fatwa ke dalam kurikulum. Fatwa lingkungan, seperti larangan membakar hutan atau anjuran daur ulang, menunjukkan bahwa Islam telah menyediakan panduan hukum yang mengikat (fikih) untuk melindungi alam. Dengan menjadikan Fatwa Lingkungan sebagai basis aksi, Gerakan Hijau didorong oleh kewajiban agama, memastikan Masa Depan Peradaban yang lestari sesuai dengan prinsip Maqasid Syariah.

Secara keseluruhan, hari kedua MICONIS ke-2 STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh menghasilkan peta jalan bagi kampus Islam untuk menghasilkan pemimpin global yang toleran dalam ekonomi, beretika dalam teknologi, dan beramal dalam ekologi bagi peradaban islam dimasa mendatang.[]

HUMAS – STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Leave a comment