Social Network

Menuju PTKIN Unggul 2019, Kampus Harus Re-Akreditasi

Menuju PTKIN Unggul 2019, Kampus Harus Re-Akreditasi

YOGYAKARTA- Dalam rangka mewujudkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) unggul tahun 2019, Lembaga Penjaminan Mutu STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh terus berupaya melakukan terobosan-terobosan  untuk meningkatkan akreditasi kampus , dari C menjadi B.

Ketua Lembaga Penjaminan Mutu STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Rahimi, MA mengatakan, dalam pertemuan tersebut yang menjadi penekanan adalah PTKIN baru harus mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas, terutama akreditasi kampus.

Hal tersebut sebagaimana dijabarkan pada Workshop Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) dan Rapat Koordinasi Percepatan PTKI Menjadi Unggul Tahun 2019, di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 12-14 Februari 2018.

“Ketersediaan dokumen dan data menjadi hal utama untuk meningkatkan akreditasi kampus,” ungkap Rahimi.

Berkenaan hal tersebut, Rahimi mengingatkan, ke depan setiap pelaksanaan kegiatan, mulai dari pelayanan akademik, pengabdian dan penelitian harus sesuai dengan standar yang telah disusun dan harus dilakukan monitoring dan evaluasi oleh lembaga penjamin mutu kepada setiap unit kerja.

“Terutama pada program studi, karena gambaran akreditasi program studi menjadi acuan akreditasi insitusi,” terangnya.

Sementara itu, Utik Bidayati S.E., M.M., Ketua LPM Universitas Ahmad Dahlan yang didapuk sebagai narasumber menyampaikan pengalamannya bagaimana Universitas Ahmad Dahlan bisa “Naik Kelas” dari Akreditasi B menjadi A.

Menurutnya, peran audit mutu internal perguruan tinggi sangat berpengaruh terhadap kesiapan data untuk mendukung borang. Sehingga diharapkan bisa memacu para dosen untuk meningkatkan penelitian aplikatif, membuat karya-karya unggulan, publikasi, peningkatan haki, implementasi kerja sama, dan program-program khas yang tidak dimiliki perguruan tinggi lain.

Selasai workshop, Lembaga Penjaminan Mutu UIN Sunan Kalijaga mengadakan Rapat Koordinasi Percepatan PTKI menjadi Unggul, ditempat yang sama yang dihadiri oleh peserta dari LPM PTKIN seluruh Indonesia.

Forum ini selain diisi dialog pengelolaan PT juga diisi materi oleh Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., sebagai narasumber. Dalam paparannya Prof. Sutrisno menyampaikan bahwa era revolusi industri 4.0 (four point zero) disebut sebagai era disrupsi. Ditandai dengan perubahan yang sangat cepat dan didukung dengan pentingnya pemahaman teknologi informasi.

Menurut Sutrisno, tantangan PTKIN tidak hanya kompetisi global dan era disrupsi (MEA), tetapi juga menuntut SDM unggul yang kreatif dan inovatif. PTKIN harus mensikapinya dengan perjuangan keras, jangan hanya menuntut anggaran yang mudah dari pemerintah.

“Tetapi harus mampu menciptakan peluang-peluang anggaran dari jejaring kerja sama,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, tantangan susahnya membuka prodi-prodi baru yang match di pasaran tenaga kerja, bisa disikapi dengan konversi prodi agar bisa lebih konsen memberikan pembelajaran yang efektif untuk melahirkan lulusan yang unggul. Sehingga mampu bersaing dengan perguruan tinggi asing yang dengan mudah membuka prodi-prodi baru.

“Perguruan tinggi swasta di Indonesia bisa dengan cepat mensikapi contohnya di Jawa Timur. Banyak perguruan tinggi swasta di sana yang dengan cepat memperoleh akreditasi A karena terobosan-terobosan yang dilakukan. Oleh karena itu PTKIN harus memacu diri, kalau tidak, akan kalah saing dengan swasta,” tegasnya. (*)

 

Dipbulis oleh: Tim TIPD

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


1001