Social Network

Persiapan untuk Menuju Kenderaan Ukhrawi

Persiapan untuk Menuju Kenderaan Ukhrawi

Oleh: Mukhsinuddin M Juned Syuib
Ketika memasuki bulan Zulhijah pasti kita mengulang kembali historis (sejarah) yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, terhadap anaknya Ismail AS, keduanya bagaimana patuh dan tunduk terhadap perintah Allah SWT tanpa ada keraguan sedikitpun dalam hatinya untuk menyembelih anak yang tercinta Ismail AS, begitu juga anaknya dengan rasa pasrah , patuh dan menghargai terhadap orang tuanya. beliau tidak takut dan risau terhadap dirinya akan disembelih oleh Ayahnya.
Prosesi penyembelihan yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim AS bersama putranya Nabi Ismail AS. dijelaskan oleh Allah SWT di dalam (surat al-Shaffat ayat 99-107) dapat kita petik pemaknaannya bahwa, ” Ketika Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim AS berkata kepadanya "wahai putraku, didalam mimpiku aku melihat untuk mengorbankan dan menyembelih kamu. Bagaimana pendapatmu? Anakku ” Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkanNya kepada Ayah sabagai sang Maha Pencipta dan Maha Tau" insya Allah ayah nanti akan mendapatiku tergolong orang-orang yang sabar dan patuh" .(AlQuran, Asyaffat, 99-100).
Sampailah saatnya antara Nabi Ibrahim AS dan Ismail untuk melakukan tugas suci dan mulia merupakan sebagai ujian yang paling berat bagi Ibrahim AS di dalam hidupnya. Terjadi dialog singkat lagi antara keduanya yang menyentuh kalbu antara mereka berdua. ”Wahai ayahku, ikatlah kedua kaki dan tanganku agar aku tidak meronta dan sakit, asahlah pisah yang akan engkau gunakan untuk menyembelihku hingga benar-benar tajam dan hendaklah engkau hentakkan dengan cepat keleherku agar dengan demikian jiwaku pun cepat meninggalkan tubuhku, karena kematian adalah proses yang sangat rumit. Hindarkanlah pakaianmu ayah dari percikan darahku agar tak terkurangi belas kasihan kepadaku dan juga agar ibuku tidak menjadi sedih dan pilu lantaran melihat noda darahku. Sampaikanlah salamku untuk ibunda dan berikanlah pakaianku kepadanya untuk menentramkan jiwanya yang dalam”.(Alquran Asaffat, 101-103).
Nabi Ibrahim AS menyimak pesan putranya yang amat menyentuh qalbunya , namun sesuatu tidak melenakannya dari perintah Allah SWT. Beliau katakan kepada putranya ”Wahai putraku betapa kamu telah meringankanku dalam menunaikan tugas dan ujian dari Allah SWT bagi kita berdua. ” Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah dan Ibrahim membaringkan putranya pada pelipisnya, laku Kami memanggilnya Ibrahim. Wahai Ibrahim engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya dengan demikian itu Kami telah berikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini adalah sebuah ujian yang sangat nyata dan Kami menggantikannya dengan sembelihan yang besar (hewan lain)” (Q.S. 37: 103-107).
Dengan Seekor domba besar telah menggantikan Ismail AS untuk diqurbankan (disembelih) oleh Nabi Ibrahim. Selanjutnya Allah SWT mengabadikan kisah Nabi Ibrahim AS dengan jalan memerintahkan generasi-generasi selanjutnya untuk berqurban dan memberikan salam kepadanya dengan kegiatan ibadah Haji, sebagai lambang dan keteladanan untuk generasi berikutnya. Sehingga kita dengan kesadaran diri, jiwa dan semangat untuk berqurban dan melaksaanakan ibadah Haji ke Baitullah.

Mencapai sebuah Kenderaan Ukhrawi
Penyembelihan hewan qurban yang kita lakukan pada setiap hari raya Idul Adha adalah sebagai syiar Islam dari manifestasi lambang keteladanan yang telah ditunjukkan Nabi Ibrahim AS bagi para generasi sesudahnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, ”Siapa saja yang menyembelih hewan sembelihan sebagai qurban maka di akhirat kelak hewan itu adalah menjadi tunggangannya. Seekor biri-biri (kambing) adalah tunggangan untuk seorang dan seekor sapi tunggangan untuk tujuh orang”(Al-Hadits).
Ini artinya ada nilai abstrak dari sembelihan hewan qurban yang menjadi sebagai "kenderaan ukhrawi" nanti di hari penantian kelak. Problemanya sekarang adalah mengapa banyak diantara kita orang Islam yang sedikit sekali menaruh perhatian terhadap "kenderaan ukhrawi" ini, sementara untuk ”kederaan duniawi” kita berlomba-lomba dan mampu mendapatkan yang lebih mewah sampai dengan cara melakukan kredit sekalipun, dan jarang sekali kita mendengar dikalangan kita ada yang berupaya cicilan untuk menyimpan dana sehingga dapat tercapai pembelian hewan sembelihan sebagai qurban untuk "kenderaan ukhrawi" nya. Mereka yang sudah mendapat limpahan rizki dan nikmat Allah tanamkan dalam jiwanya untuk berqurban sekaligus membantu para orang miskin dan anak yatim.
Sekarang bagaimana kita merubah paradigma kita selama ini, untuk meningkatkan kualitas amal ibadah kita kepada Allah SWT. Jangan tumbuhkan sikap kikir dan picik di dalam hidup, karena telah banyak bukti bahwa semua keduniawian ini adalah fana serta bersifat fatamorgana. Jadikanlah diri kita ke dalam kelompok orang-orang yang dapat memahami realitas ini sebagai sarana untuk menggapai kehidupan yang diridhai dan kasih sayang Allah SWT. Bagi kita yang telah mampu menyembelih hewan qurban terus tingkatkan ibadah kita kepada Allah, dan bagi mereka yang belum mampu berqurban upayakan bahwa di suatu saat nanti untuk mampu menyembelih hewan qurban sebagaimana orang-orang yang telah berqurban.
Proses ajaran nabi Ibrahim AS sekaligus yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah ibadah haji, bagi mereka yang telah mampu untuk melaksanakan ibadah Haji sabagai melaksanakan rukun islam yang kelima yang diwajibkan oleh Allah SWT hanya satu kali, tetapi apabila ada kemampuan dan kesempatan selanjutnya sebagai sunnah melakukannya , tapi hari ini masih banyak saudara-saudara kita yang belum sekalipun melaksanakan panggilan Nabi Ibrahim AS dan berikan kesempatan kepada orang mukmin lainnya belum melakukan Haji sebagai bentuk membantu dan menyayangi sesama mukmin, karena banyak saudara- saudara kita yang lain telah menjadi sebagai (waiting list) menunggu bertahun -tahun.
Sehingga dengan pelaksanaan ibadah haji tahun ini merupakan kesempatan bagi orang-orang yang telah memenuhi panggilan nabi Ibrahin AS di Baitullah semoga menjadi Haji yang mabrur nanti ketika kembali ke tanah air dan menjadi orang-orang yang amanah dan jujur semoga, amin.

(Penulis adalah : Mukhsinuddin. M. Juned Syuib, S.Ag, M.M : (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat. Sekarang Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Unsyiah Banda Aceh).
Email. muhmuhsin@gmail.com

Tinggalkan Balasan

1001