Social Network

Memaknai setelah Hari Fitri

Memaknai setelah Hari Fitri

Oleh Mukhsinuddin M. Juned Syuib

Kita akan meraih sebuah kemenagan yang sangat besar bagi orang-orang yang beriman dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Karena kita telah menunaikan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh.

Berbagai halangan dan rintangan, baik secara fisik atau psikologis telah kita hadapi dengan penuh kearifan pikiran dan perasaan, dan hal ini kita dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah SWT. dengan penuh ketaatan terhadap perintahNya . Rasulullah menjelaskan dalam Haditsnya : Bagi orang yang berpuasa dengan dasar iman dan penuh pengharapan dan perhitungan akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. (HR. Muslim)

Pada Hari Fitri setiap manusia muslim kembali pada hakikat kejadian yang suci fithrah dan diwarnai dengan sifat-sifat insan kamil dalam bingkai “taqwa” sebagai tujuan akhir dari proses pelaksanaan ibadah secara menyeluruh. Ciri “taqwa” sebagaimana digambarkan dalam Al-qur’an (Al-Baqarah: 3-4) adalah: Pertama, orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. Kedua, orang-orang yang mendirikan Shalat Ketiga, orang-orang yang menafkahkan sebagian rizki yang telah dianugerahkan Allah SWT. Keempat, beriman kepada kitab Al-qur’an dan kitab-kitab yang telah diturunkan kepada umat sebelumnya. Kelima, meyakini akan kehidupan hari akhirat.

Itulah orang orang yang Allah berikan prediket Taqwa dengsn menjadi insan yang kamil, mereka akan menjadi panutan dalam kehidupan ummat, mereka akan menjadi sebagai pemimpin ummat akan datang.Bila ini bisa terlaksana dengan baik pasti kehidupan ummat akan terasa sejuk dan akan membentuk karakter Bangsa yang baik pula.

Mencapai Ketaqwaan

Ketaqwaan seseorang selalu berhubungan dengan dimensi aksiologis yang berwujud pada system nilai yang menjadi tuntunan semua muslim menyangkut antara mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mana yang halal dan haram dilakukan. Kesadaran aksiologis ini mengharuskan manusia muttaqin bertanya tidak hanya sekedar “apa yang harus saya lakukan” tetapi juga “ apa yang sebaiknya dan semestinya saya lakukan”. Disinilah letak perbedaan dengan orang-orang rasionalis yang hanya bisa bertanya”apa yang bisa saya lakukan” yang implikasinya adalah pencapaian bersifat tehnis, dalam melakukan segaala perbuatan baik.

Sementara orang orang muttaqien akan memiliki sikap kehati-hatian, berorientasi jangka panjang, penuh makna dan nilai dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Menurut Sayid Quthub dalam tafsirnya “Fi Dhilal Al-qur’an” bahwa orang-orang muttaqin memiliki tugas yang ditetapkan Allah (al-Wadhifatul Ilahiyah) yang tercermin pada hakikat penciptaan manusia yang mengemban tugas-tugas pengabdian (ibadah). Semua aktifitas manusia harus difungsikan untuk kepentingan yang bernilai ibadah. Kalau manusia dapat melakukan tugas-tugas ini, maka berarti ia telah melakukan tugas-tugas ilahiyyah (Faqad haqqaqa wujuda ghayatihi) Sebaliknya, orang-orang yang tidak dapat melakukan tugas-tugas tersebut, maka ia telah gagal dalam pencapaian tujuan hidupnya (Faqad abthala wujuda ghayatih )

Semua aktifitas manusia ini berwujud pada amaliyah ibadah yang tujuannya tidak hanya menciptakan kesalehan ritual, tetapi juga harus merangkum kesalehan sosial dalam diri manusia. Kedua tujuan ini dapat dilihat pada adanya kewajiban amaliyah dalam kehidupannya, melakukan Sholat, berzakat dan bersedekah bagi orang-orang yang telah diberikan kemamampuan material oleh Allah SWT. Dalam sejarah kita kenal dengan “perang kemurtadan” bagi orang-orang yang enggan membayar zakat dan ini dilakukan oleh Khalifah yang pertama “Abu Bakar As-Shiddieq” sikap Abu Bakar ini menunjukkan kepada kita beberapa hal penting itu , antara lain adalah: Pertama, Negara harus campur tangan dalam upaya menggiatkan masyarakatnya agar dapat menunaikan kewajiban berzakat dan kewajiban lain secara proporsional. Kedua, orang-orang yang miskin harus menjadi perhatian utama dari pemerintah dengan pengelolaan Zakat , infak dan sedeqah dengan manajemen yang baik dan benar.

Menuju kepada Kemenangan yang Besar.

Musuh utama dalam kehidupan umat manusia adalah kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu, setiap kita umat Islam dalam berbagai level, baik individu atau kelompok harus menyatukan persepsi untuk memberantas masalah kemiskinan dan kebodohan ini secara lebih bersahaja melalui keseharian kita, terutama pemerintah dan organisasi -organisasi sosial yang mewadahi kita secara bersama-sama. Inilah yang digambarkan dalam Al-qur’an sebagai orang-orang atau kelompok yang senantiasa menginginkan kebaikan dan keampunan dari Allah SWT. (Al-qur’an, Ali Imran: 133-136).

Dan segeralah kamu kepada (mengerjakan amal-amal yang baik untuk mendapat) keampunan dari Tuhan kamu, dan (mendapat) Syurga yang bidangnya seluas segala langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa;Orang-orang yang demikian sifatnya, balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka, dan Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) orang-orang yang beramal. Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka - dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya).

Dan yaitu orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan (ingatlah), Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara yang baik;.

Dari itu dalam mewujudkan Hari Fitri ini sebagai hari kembali kepada kesucian dan kefitrahan kita bagi kita ummat Islam sebagai orang-orang yang sukses dan menang dalam menjalankan ibadah Ramadhan kepada Allah Swt, mampu menjaga dan beramal serta beraktifitas dalam bingkai ketaqwaan yang menghiasi kehidupan kita sebagai hamba Allah SWT. Dan kepada Pemimpin dan masyarakat untuk menjaga kesucian itu yang telah diraih dengan melaksanakan aktifitas secara jujur dan amanah dalam menjagz kehidupan setelah kita melakukan Ramadhan dan menyongsong Hari Fitir yang lebih baik dan memsknainyz dengan gemilang dan gembira , sehingga kita bias menjaga amalan dan perbuatan kita sesuai dengan kesucian dalam bingkai Idul Fitri 1438 H, semoga. Amin.

(Penulis adalah : Mukhsinuddin M. Juned Syuib S, Ag , M.M , Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Unsyiah Banda Aceh, Dan Dosen STAIN Tgk Dirundeng Meulaboh Aceh Barat ).(email : muhmuhsin@gmail.com)

Tagged:

Tinggalkan Balasan

1001