Social Network

Guru Besar Komunikasi Antarbudaya Kuliah Umum di STAIN

Guru Besar Komunikasi Antarbudaya Kuliah Umum di STAIN

STAIN | Guru Besar Komunikasi Antarbudaya Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dra. Hj. Lusiana Andriani Lubis, MA, P.hD, memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, di aula kampus setempat, Selasa 31 Mei 2016.

Kegiatan tersebut diadakan Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam, dengan tema “Medsos dan Runtuhnya Budaya Masyarakat: Maya vs Nyata”. Diikuti oleh 80 peserta dari dosen dan mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng dan Universitas Teuku Umar.

Dalam materinya, Lusiana menyampaikan, perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat ini telah membuat budaya masyarakat mengalami pergeseran dari tradisional ke digital. Ia mengibaratkan, generasi muda hari ini merupakan generasi “Z” yang hidup di era serba digital.

Pesatnya kemajuan teknologi hari ini betul-betul harus disikapi dengan cara yang tepat dan cerdas, sehingga tidak terjadi culture shock (keguncangan budaya).

“Apa yang terjadi hari ini telah diprediksi jauh-jauh hari oleh para pakar komunikasi, di mana masyarakatnya semakin maju, informasi hanya sebatas ujung jari,” ungkapnya.

Lusiana menambahkan, kebanyakan masyarakat hari ini telah salah kaprah dalam pemanfaatan teknologi, sehingga berimbas pada hal yang negatif. Kehadiran teknologi yang awalnya untuk memudahkan kerja manusia, malah membuat sipengguna menjadi malas dan tidak kreatif.

“Begitu melek waktu pagi, yang pertama kali dipegang gadget, cek dan update status. Larut dibuai oleh dunia maya atau media sosial. Sangat disayangkan, kondisi inilah yang sedang menggerogoti generasi muda kita, sehingga malas berpikir dan indek akademiknya turun,” lanjutnya.

Penggunaan media sosial (teknologi) yang salah kaprah juga semakin banyak memunculkan berbagai bentuk kecurangan. Mulai dari tahapan interaksi sosial sampai ke ranah pendidikan. Ia mencontohkan, saat ini ada satu anggapan bahwa, untuk membaca tak perlu lagi harus beli buku, cukup cari di internet.

“Akibatnya apa, plagiat di mana-mana. Generasi kita semakin malas berusaha, semua sudah tersedia, tinggal copas (copy paste). Ini berbahaya, terutama bagi dunia pendidikan kita, anak-anak didik kita,” tegasnya.[]

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

1001